Kamis, 24 Februari 2011

Sometimes I want to be like Manchester United

Mencintai seseorang itu seperti anugerah yang terkadang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mulut ini terlalu berat untuk memberikan alasan mengapa kita bisa mencintai seseorang yang padahal notabennya dia bukan sama sekali type orang yang kita cari. Yaa, mencintai tidak perlu alasan.Jadi jangan pernah bertanya mengapa kita bisa mencintai seseorang. Jangan pernah bertanya mengapa seorang Ibu rela mempertaruhkan nyawanya hanya untuk seorang anak yang sering membuat Ia menangis. Jangan pernah bertanya mengapa seorang Ayah rela berpeluh keringat dan tidak ada letihnya mencari nafkah hanya untuk sesuap sushi (loh?) sesuap nasi maksudnya hanya untuk anaknya yang sering membohonginya.

Honestly, menurut saya pada prinsipnya mencintai itu seperti musik yang saya dengarkan setiap hari. Alunan yang bisa membuat saya terbang keawang-awang atau jatuh ke lubang yang sangat dalam. Membuat hari-hari berwarna seperti pelangi yang muncul setelah hujan atau seperti berada diruangan kosong and wherever the eye could see only see the white light. Holyyyyyy....


Dulu, waktu SMA sebagian besar perempuan sudah memikirkan siapa lelaki yang akan menjadi jodohnya. Segelintir ucapan anak-anak bersergama putih abu-abu yang sangat konyol sering terdengar.
'Klo kita pacaran sama dia, berarti kita juga pacaran sama keluarganya'
Hellyeah! Absolutely agree with it. 


Terdengar cupu sepertinya, tapi yah memang begitu adanya. Menyayangi seseorang yang komplex. 1 paket. Without exception.


Dan ada 1 hal lagi yang menggambarkan betapa kita menyayangi orang yang kita sayang. Belajar mencintai apa yang dia cintai. Terdengar mudah saat dibicarakan. Tapi saya berani bertaruh, ketika kamu belajar mencintai hal-hal baru yang mungkin akan membuatmu bosan itu suatu hari nanti menjadi sesuatu yang berguna.


Sepak bola. 
Yess! Itu. Sepakbola. Sekali lagi, SEPAK BOLA.


Begitu mendengar atau mengucap kata Sepak Bola, yang ada diotak saya ketika masih sekitar berumur 8 tahun adalah Juventus. Inzaghi. Del Piero. Liverpool. Owen. Beckham. Ganteng. Dan sekarang adalah. Bola. Bundar. Direbutkan berpuluh-puluh orang selama 45 menit x 2 = 90 menit. Buang-buang tenaga. Keringat. Panas. Males ah. ENGGAK BANGET!


Peduli setan dengan Si Gurita aneh entah datang dari planet mana yang bisa meramalkan team mana yang akan menang dengan cara memilih bendera. I think it just waste my time and its soooo non sense. Binatang gitu loh! Masa iya manusia berakal dan berpendidikan seperti kita percaya sama binatang. Sirik! Neraka!


Okelah, lupain soal si gurita. Btw, anyone of you remember the name of the octopus? I forgot. Paul maybe? Or Squitword? lol


Siapalah dia ya..


Sekitar 5 bulan terakhir ini saya sedang belajar mencintai apa yang dicintai oleh orang yang saya cintai. Manchester United dan tetek bengeknya. 
Hampir setiap hari saya cari tahu apa MU itu? Kapan sih MU tanding lagi? Sebutan fans clubnya? Nama pemain MU yang famous? Dari Twitter, Facebook, Wikipedia, Google. Semua media yang saya anggap mengerti dan akan memberikan semua info yang saya ingin tahu. Hampir setiap pertandingan MU teman-teman saya mengganti Display Picture mereka dengan foto MU, dan secepat mungkin saya simpan terkumpul di satu albuk khusus. Lagu Manchester United yang Glory-glory itu? Juga tersimpan manis di MP3 handphone saya. 


Mungkin terlihat dadakan atau terkesan ikut-ikutan? Seperti tiba-tiba semua wanita yang tadinya tidak menyukai persepakbolaan Indonesia semuanya berbondong-bondong menonton pertandingan secara langsung. Kalau ditanya semua mempunyai jawaban yang sama. ' Yang main ganteng-ganteng'
Itu manusiawi. Kami wanita normal yang setiap laki-laki berkeringat dan terlihat jantan akan meleleh. Curhat ini sedikit frontal, tak apalah.

Saya lebih suka spontan karena terlihat lebih jujur dan apa adanya.



Sekarang, saya sedang gencar-gencarnya menyukai pemain Manchester United yang bernama Rafael. Setelah diberi tahu oleh 'dia' ternyata si unyu Rafael ini kembar. Fabio. Nomor punggung mereka juga hanya berbeda 1 ankga. 20 dan 21. 


Sebelum Rafael, saya sempat mengetahui sedikit tentang Ryan Giggs dan Rooney. Yah, hanya tau sedikit kalau mereka pemain hebat. Hahahaha


Apapun itu, yang pasti sedikit perubahan saya terhadap sepak bola ini membuat seseorang merasa dihargai atau senang mungkin karena apa yang dia sukai pelan-pelan saya sukai juga. Tanpa bohong sedikit pun, saya mulai menyukai bola saat ini. Adrenalin ini sedikit bergetar setiap melihat bola yang ditendang meleset sedikit dari gawang dan ada kekecewaan disitu. Sukses ya kamu sayang bikin aku suka, huh!


Pembicaraan kecil antara saya dan abang saya yang juga menyukai MU 
P : Da, Barca itu pemain mana ? (ngakak aja ga papa)
M : Itu bukan pemain dek, itu nama club (ngakak puas banget dia!)


Mungkin saat itu, dikepala abang saya adalah.. Kasian adek gw, kemana aja lo slama ini ??


Oh baiklah, saya terlihat cupu dan tolol sekali. Terima kasih atas kemaklumannya. Tertanda, Kaum awam.

Terkadang, saya ingin sekali menjadi Manchester United. Ditunggu dan setiap MU menang pasti dia senangnya minta ampun! 24 jam bisa baiiiiiik banget. Manis. Iya, saya cemburu!
Setiap pertandingan MU berlangsung atau hasil pertandingan yang menyatakan bahwa MU menang dengan cepat dia meng-update status entah di Twitter atau di Facebook memperlihatkan bahwa dia fans sejati yang sangat bangga akan team kesayangannya menang. 
You can find him and it at  http://twitter.com/#!/Iqbal8balls

Saya berfikir entah kapan suatu hari nanti, saya menggunakan kostum pemain bola lengkap dengan kaos kaki panjangnya selutut seperti pelajar Korea bermain bola didepan matanya. Konyolkah? Tolong, jangan dibayangkan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar