Dikala kamu sedang mengenal seseorang. Entah untuk beberapa waktu kamu mengenalnya. Semua butuh proses. Untuk benar-benar mengetahui siapa sebenarnya dia. Pasti banyak hal yang kamu lewati. Banyak hal yang tidak sempat terfikirkan diotakmu untuk mngetahui seberapa pentingnya orang tersebut. Hal-hal kecil seperti sifatnya yang egois, mudah tersinggung, tidak mau kalah, dan pendendam. Hey, sadarlah! Itu hanya segelintir sifat sepele yang harus kamu maklumi. Yah, tidak semua sifat dapat diterima dengan akal sehat. Banyak hal yang tidak bisa kita terima dengan hati. Tapi coba kamu hentikan semua aktifitas rutinmu dan mulai membenahi diri. Terkadang, instropeksi itu sangat penting untuk mengetahui siapa kita yang sebenarnya dan siapa orang-orang yang kita hadapi dan ditemui sehari-hari.
Seseorang yang selama ini kita kenal terlihat baik, apa adanya, selalu mengalah, menuruti semua yang kita mau tanpa sedikitpun memikirkan apa yang dia mau dan apa yang dia butuhkan. Suatu nilai tambah apabila kita selalu menjadi seseorang yang orang lain inginkan. Walaupun harus menjadi orang lain. Yang kita inginkan hanya selalu bisa melihat orang disekeliling kita bahagia. Bagaimanapun caranya.
Menyakiti itu lumrah adanya. Wajar. Manusia tidak ada yang sempurna. Semua pernah melakukan hal-hal kecil yang tanpa disadari telah melukai perasaan. Bull-shit deh sama yang namanya just kidding. Tanpa pernah kita tahu, disaat orang yang berkata ' just kissing ' tadi benar-benar mengungkapkan apa yang ada diotaknya. Spontanitas itu lebih terlihat jujur.
Salah satu spontanitas yang sering kita lewatkan adalah menganggap remeh orang lain. Kita selalu merasa lebih mampu. Lebih hebat. Renungkan. Dan ingat-ingat siapa kira-kira yang sering kamu remehkan. Segera minta maaf dengan sungguh-sungguh. Tidak perlu berjanji kalau tidak akan mengulangi, karena Janji menurut saya hanyalah kalimat yang terucap disaat kita merasa salah. Setelah keadaan membaik? Janji itu entah dimana.
Yah, saya salah satu manusia yang sering berkelit dengan kata JANJI. Dan fakta berbicara bahwa setelah keadaan membaik semua kata-kata manis dari janji itu terbang terbawa angin. Janji pada diri sendiri untuk tetap menjaga kesehatan sendiri. Itu salah satunya. Merokok. Saya menyadarai sekali bahwa rokok sangat mempunyai kekuatan yang sangat besar untuk membuat saya mati diusia muda. Lidah tidak bertulang kawan, janji tinggallah janji...
Back to the topic. Baru-baru ini saya sangat bosan dengan semua keadaan yang ada. SEMUANYA! Entah harus bagaimana supaya keadaan tidak berjalan 'gini-gini aja'. Semua terlihat datar dan biasa.
Saya mempunyai pacar yang tiap saat bisa menghibur saya bagaimanapun caranya dia selalu membuat saya tersenyum. Terkadang saya berfikir bahwa saya bukan pacar yang baik. Pembangkang, keras kepala, pemberontak. Ga dewasa kalo kata 'dia'. Semua perhatian yang dia berikan saya anggap sebagai angin lalu. Di saat dia diam ? Saya bisa apa ? NOL!
Sejenak terfikirkan oleh saya untuk mencari tahu ada apa sebenarnya dengan saya ya ?
Terbuat dari batu apakah saya ?
Sepertinya dia selalu dan tanpa bosan memberikan perhatian yang ekstra. Terlihat sepele mungkin dimata kalian semua. Dan juga dimata saya. Sorry, pacar :p
Dan malam minggu ini membuat saya sadar tentang semuanya. Meremehkan orang lain itu benar-benar kesalahan fatal dalam hidup! Orang tua saya pun tidak pernah mendidik saya untuk meremehkan orang lain.
Dimata saya sesosok Iqbal itu adalah laki-laki yang simple dan apa adanya. Terlalu banyak sifat yang saya tau, tapi 2 sifat tadi sudah menggambarkan sifat dia yang sebenarnya.
Jujur, selama ini saya kurang begitu kenal Iqbal saya tadi. Terlalau banyak yang disimpan. Entah memang dia orang yang tertutup atau justru banyak hal yang tidak penting menurut dia untuk saya ketahui. Hal itu yang membuat saya mencari tau sendiri siapa Jagoan-ku itu. Dia memang tidak bisa bermain gitar, malu klo disusruh nyanyi, bukannya ga bisa tapi dia memang mempunyai bakat lain yang bisa membuat saya bangga.
Apa itu ? Cuma saya yang tau.
Yang pasti, salah satu hal yang selama ini saya tau semakin bisa saya tau. Bingung ga lo? Hahaha
Tidak perlu sering mengumbarkan apa yang ada di diri kita mungkin akan terlihat lebih istimewa. Belajar rendah hati seperti Iqbal.
Soal saya sering meremehkan Iqbal ? Semua datang dari niat. Sayangi orang lain seperti kamu menyayangi dirimu sendiri. Jangan pedulikan masa lalu mu atau masa lalu nya.
It would be wonderful if we could respect each other.
I beg you, you still become what I know
I am proud to have you, Muhammad Iqbal Wijaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar