Saat ini berbicara tentang sesuatu yang hilang dan dalam misi pencarian yang entah sampai kapan bisa ditemukan.
Kenapa harus Cinta lagi?
Kenapa Cinta melulu?
Itu saja yang terputar dikepala saya semenjak 2 minggu terakhir ini. Jujur, saya termasuk disalah satu ribuan perempuan yang masih sering GA-LAU sebelum tidur dimalam hari, Pertanyaan tidak penting seperti, ‘ Will he still love me in the morning? ‘ atau ‘ Dia bener-bener tidur atau ngapain ya? ‘ dan yang sangat sering adalah ‘ Jodoh gw siapa sih? ‘ walaupun saat ini saya mempunyai seseorang yang sangat saya sayangi.
Here I am. Sedang GALAU tingkat langit ke tujuh. Masih terlalu siang untuk GALAU-ing sepertinya yang menunjukkan pukul 7.34pm ini. I never galau like this before. Kali ini berbeda, tidak meraung-raung. Tidak menangis. Tidak sibuk membakar rokok. Tidak menutup muka dengan bantal. Tidak menatap langit dengan tatapan kosong. Tidak berusaha mencari pelampiasan emosi. Tidak seperti biasanya.
Ada apa? TERBIASA
Bukan terbiasa galaunya. Tapi terbiasa ‘begini’ ‘seperti ini’.
Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyalahkan satu sama lain. Dimana sama-sama merasa kehilangan sesuatu. Sadarilah, tidak akan ada habisnya saling memojokkan,
Saya juga tak tau pasti entah hilang kemana ‘kita’ yang dulu. Hari-hari terlewati begitu saja. Tidak ada yang membekas seperti dulu. Tidak ada yang berarti yang bisa bikin tersenyum seperti dulu. Tidak ada lagi tawa canda seperti dulu. Tidak ada lagi hal-hal sepele yang sering kita bicarakan seperti dulu. Tidak ada lagi ‘cini cini peyuk’ lagi seperti dulu.
Kemana ‘kita’ yang dulu?
Dimana ‘kita’ yang dulu?
Ada yang tau???
Sangat menyedihkan memang, jarak yang terlampau jauh ini mungkin menjadi salah satu kendalanya. Jenuh? Saya tidak bisa menjudge seperti itu. Terlalu sempit sepertinya seorang Iqbal merasakan jenuh. Lalu? Entah!
Saya yang selalu merasa paling benar. Dan dia yang selalu merasa terpojokkan. Kami selalu merasa tidak mau disalahkan.
Tak ada lagi yang mau mengalah.
Tak ada lagi yang mau mengairi yang lain.
Tak ada lagi yang merasa takut kehilangan.
Semua menjadi batu.
Sama-sama keras.
Dan akan hancur bersamaan. Pasti.
Lalu mau dibawa kemana keadaan yang pahit ini?
Saling diam yang kamu mau?
Memastikan apakah salah satu diantara kita masih saling membutuhkan?
Bagaimana dalam waktu diam itu salah satu diantara kita menemukan ‘mainan yang baru’ ?
Bagaimana kalau ‘mainan yang baru’ itu lebih baik menurut kita karena ‘mainan yang baru’ itu datang di waktu yang tepat? Trust me! That is not work.
Mungkin kamu menganggap bahwa jodoh ditangan Tuhan. Kalau jodoh ya ketemu lagi.
Hey! Tuhan memang mengatur semuanya. Tapi tetap manusia yang berusaha.
Toh tidak ada salahnya kan kita tetap berusaha.
‘Ini bukan saatnya kita saling diam, sayang…’
Yang saya butuhkan adalah kita mencari bersama apa yang hilang itu. Kalaupun yang kita cari tidak bisa ditemukan. Kita bisa mulai semuanya dari awal lagi. Tentunya, kalau kamu masih ingin semuanya diusahakan agar keadaan kembali seperti sedia kala.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar