Rabu, 23 Februari 2011

I Prefer To Call Her As a Sister (Part I)

1 batang rokok yang saya rencanakan untuk memulai untuk menulis sudah habis begitu saja. Maaf nya Calvin Jeremy pun sudah saya putar selama 4x berturut-turut dan saya baru mulai menulis sampai pada playlist urutan ke 7. Mungkin, untuk menulis kali ini tidak dibutuhkan shuffle-an mp3 yang mendayu-dayu serta mellow. Dan lagu seperti Rihanna yang beritme ria ini justru bikin semangat. 

Didepan mata saya sedang terdapat pemandangan yang sangat menyenangkan, menurut saya. Yeah, teman saya sedang tertidur pulas. Mungkin baru sekitar 5 menit memasuki dunia tidur. But for sure, She's got dream right now. Ngomong-ngomong soal mimpi, semua orang pasti pernah bermimpi tentang semua hal. Salah satu mimpi yang pernah saya dapat adalah mimpi dimana saya sendiri yang memakai baju berwarna hitam dan semua orang yang saya kenal berada disekitar saya memakai baju putih. Sekali lagi, semua orang yang saya kenal ada disitu. Tidak terkecuali. Dan itu terjadi selama 2 malam berturut-turut. Nightmare? Saya kurang begitu yakin. Yang pasti, saya senang dalam mimpi saya itu semua orang yang sudah lama tidak saya jumpai ada disitu. Berkumpul, saling berpelukan, dan menangis. Menangisi saya kah? I don't think so. 
Bisa dibayangkan betapa kalutnya saya saat bangun dari tidur dan mengingat mimpi itu. Lalu pendapat beberapa orang yang ada disitu ketika saya tanya artinya? Hanya bisa saling bertatap muka dan semua jawaban saya terima sama. ' Ga ada yang salah, namanya juga mimpi' That's all.

Fine! Saya berusaha melupakan semua mimpi yang absurd dan abstrak itu. Namanya juga mimpi.

Sampai saya bertanya pada seorang teman yang mungkin bisa memberi jawaban yang berbeda. And yess, I got it. ' Tuh Put, mungkin aja tegoran. Solat udah jarang kan? Nyaris ga pernah '
It sounded like a thousand knives stabbing me from all directions. Just....oh no!
Setiap mengingat kalimat itu, dan saat itu juga saya teringat akan ribuan pisau dari segala arah. 


Ohwell, kita beralih pembicaraan tentang pertemanan, persahabatan, dan persaudaraan.
Saya sedang ditemani Flo Rida-Club Can Handle Me dan bunyi orokan dari teman saya yang sedang tertidur pulas. Oiya, sedikit intermezo. Teman saya yang satu ini sedikit lucu. Entah mengapa untuk menghilangkan kebiasaan me-ngorok-nya itu sampai dia mendatangai seorang Kiyai. Dia selalu membawa tasbih yang diberikan guru spiritualnya itu kemanapun dia pergi. Yah, it works..sometimes. And i called it by Jimat. Hehe

Menurut kamu apa itu teman?
Bagaimana seseorang bisa dikatakan sebagai teman?
Dan apa yang menjamin seseorang bisa dikatakan sebagai teman sejati?
Anyone? Anytwo? Anythree?

Saya tidak tau pasti tentang jawaban atas pertanyaan saya tadi. Too much to say.
Yang saya tau, sekarang, saat ini, mempunyai teman yang mungkin lebih tepatnya disebut sebagai saudara. Karena mereka lebih dari arti teman. 
Salah satu teman (baca: saudara) yang saya miliki sangat mempunyai kepribadian yang sangat menyenangkan. Sesosok perempuan yang mandiri, humoris, kocak dan sedikit gokil. 
Salah satu sifat kegokilannya adalah entah mengapa semenjak 8 bulan terakhir dia mempunyai pacar baru sifatnya sedikit berubah. Saya menyayangi ketika saya mendapati, teman saya bukan dia yang dulu. Yang kuat, yang bisa mengontrol semuanya. Mungkin benar kata orang, beda rasa beda cara. Sekarang, dia seperti mempunyai kepribadian ganda. Loh! Serius nih ga becanda! Bahkan dia sendiri mengakui bahwa dia sekarang sedikit aneh akan dirinya sendiri. 
B : Kayanya di kepalaku tuh sekarang ada angle sama devilnya deh Put...
P : Hah? Horor! 

Pembentuk karakter angle dan devil ini tidak lain dan bukan adalah si pacar. Si pacar dengan tidak sengaja dan dengan tidak sadar telah membentuk karakter teman saya yang sebentar lagi akan wisuda. Congrats for youre graduate btw pretty ( :
Entah karena si pacar terlalu keras atau mungkin karena si dianya yang sangat menghormati si pacar. Apapaun alasannya saya sangat sedih atas apa yang terjadi sama teman saya satu ini. Pacaran itu bikin hati tenang, bukan untuk pusing atau untuk dibikin stress. Oops, maaf mungkin pernyataan saya ini hanya pendapat saya saja. Tanpa mengurangi rasa hormat sedikit pun, saya tetap mendukung segala bentuk apapun yang bikin orang disekeliling saya bahagia. Dengan caranya.

Saya hanya ingin memberitahu sedikit hal kepada semua laki-laki yang merasa sebagai laki-laki diluar sana. Sedewasa apa pun kami dimata kalian, kami tetap sesosok perempuan kecil yang butuh dimengerti. Diperhatikan. Diberi kasih sayang dengan tulus. Kami ga butuh uang kalian, kami ga butuh hadiah-hadiah dari kalian. Dengan mengucap janji bahwa kalian akan selalu ada buat kami dalam kondisi apa pun kami bisa sangat bersyukur. Kami dengan segala kesadaran bahwa janji tidak semua ditepati, tapi setidaknya kalian telah berusaha membuat kami bahagia. 1 hal, sejahat-jahatnya kami sebagai perempuan setidaknya kami selalu memandang segala hal dengan hati kami. Itulah sebabnya kami lebih mudah tersinggung, lebih mudah menangis, lebih mudah merasakan hal-hal kecil yang kami anggap sepele menjadi sangat penting.


Kalian pasti tidak pernah berfikit bagaimana bahagianya kami ketika kami dicari, dibutuhkan, dirindukan, dianggap ada. Ini akan terlihat 'lebay' ketika kami akan tersenyum sepanjang hari saat membuka mata melihat HP dan melihat berpuluh-puluh SMS dari provider dan terdapat 1 sms saja dari laki-laki yang kami sayang mengucapkan 'Pagi sayang... Have a good day yah..' It feels like WAW! dan tanpa sadar kami akan berterima kasih kepada Tuhan karena kami telah menemukan seseorang yang bisa memberi kami semangat. Rasanya seperti saat membuka mata laki-lakai itu ada didepan mata. Dan dia satu-satunya orang yang kami lihat, pertama kali.

See? how precious you are in our eyes? in our lives?

Terlihat seperti emosi ya?
Well, semoga dengan Sampoerna kali ini tulisan saya bisa sedikit 'bener'. Amen for that.
Oh iya, saat ini saya sedang mendengarkan Owlcity-Fireflies. Saya sangat merindukan lagu ini terdengar dari handphone saya yang menunjukkan sang kekasih menelfon. Tapi semua teratasi, baru saja saya berbicara dengan dia yang jauh dimata sana. Hanya 1:43 menit dan percakapan kecil untuk membangunkannya dari tidur untuk menonton pertandingan Manchester United yang dia sayangi. Oke, dia selingkuh!

Saya kurang bisa menemukan jati diri saya yang sesungguhnya seperti apa. Terlalu mudah dihasut itu yang membuat saya kurang punya prinsip hidup. JANGAN DITIRU!
Terkadang cengeng, kadang masa bodoh, kadang kuat, kadang cuek, kadang stress.
Disaat kita dalam keadaan baik-baik saja dan orang lain terkena musibah kita dengan mudah memberi saran semau udel kita tanpa memikirkan perasaan orang yang kita beri saran. Perkataan menusuk, menyakitkan hati sering keluar begitu saja tanpa sadar. Begitu juga saya, sering lepas kontrol saat memberi saran. Tapi justru itu yang membuat sadar seseorang. Dengan cara yang lembut atau pelan bukan membuat orang yang terkena masalah akan sadar justru akan menambah kemunafikan. Tapi semua kembali kepada si yang terkena masalah. Mau kita memberi saran sambil menodong pisau paling tajam pun, semua hasil tergantung pada pendengar. Teman yang baik hanya bisa membantu menyadarkan. Bukan menjerumuskan.

Disitulah letak tolong menolong. Menolong keluar dari masalah atau justru lebih memasukkan ke masalah yang lebih dalam. Segala bentuk tolong menolong yang tidak bisa disebutkan satu persatu pun telah sangat sering terjadi. Hal yang terlihat sepele tapi sangat penting buat saya dengan seseorang, saya type orang yang suka 'titip donk' dan yang lebih sering adalah dalam hal titip pulsa. Mungkin dimata seseorang yang bisa membantu saya sangatlah sepele, tapi tanpa dia sadari dari hasil menolongnya itu bisa membuat orang lain bahagia. Bukan hanya saya, tapi seseorang yang akan saya hubungi. Sepele kan? Tapi setelah itu, semua bahagia. Contoh lain, disaat saya jatuh dalam keadaan yang dimana tidak ada 1 orang pun bisa membikin saya tenang. Dalam keadaan apa pun dia saat itu, entah SMS nya tidak dibalas oleh pacarnya atau sibuk mengurusi suatu hal yang mempengaruhi masa depannya. Dia sangat serta merta mengajak saya untuk keluar sekedar melepas beban yang ada untuk hahahihi bersama. Dan tentunya masih sangat banyak lagi hal lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
 
For you're information...
Dia, yang saya bicarakan tadi sekarang sedang memeluk guling dengan erat menghadap ke sebelah kanan dengan mata tertutup. Terlihat sangat lelap dan sedang menikmati mimpinya.
At Hoka Hoka Bento 16 Juni 2010 - Bela's Birthday Party
Itulah arti teman, mungkin saya tidak menyebutnya sebagai teman. Tapi saudara. Disaat kamu harus terpisah jauh dari orangtua, keluarga, pacar dan hanyalah teman yang akan bisa membantumu dalam segala hal. Ah! Saya tidak akan pernah menyebut orang lain sebagai teman kalau dia hanya selalu mengaggap kita ada dalam keadaan jatuh saja. Teman itu ada dalam suka dan duka. Saudara? Mereka tau kapan kita tersenyum dibalik kepahitan dan dia juga tahu kapan kita menangis dibalik tawa riang. Hanya mereka (saudara)-lah yang bisa menerima keadaan kita bagaimanapun saat itu. 

Bela Monalisa Nurbaety  SH a.k.a Bela atau Lisa

Bangga dan senang bisa dan pernah mempunyai kamu dihidupku sampai saat ini. Sedih rasanya kalau suatu hari nanti harus berpisah demi masa depan masing-masing. Sedikit lebay bel, tapi beneran nih aku sayang kamu! Jangan lupain masa-masa kita kehujanan dari Saphire atau masa-masa stress kamu waktu TOEFL atau masa-masa kamu ketiduran dikamarku trus baru bangun ajm 5 subuh hehe tetep jalanin apa semua yang bikin kamu seneng. Jgn lupa! Cuma kamu yang tau gimana caranya bikin kmu seneng. 1 lagi, ga cape apa terlihat kuat setiap saat? Nangis tanpa peduliin apa kata orang itu penting. Cewe boleh tegas kok bel, selama tau batasannya aja. Sukses dunia akhirat yah sayang... Dijaga Blackberry barunya. Oiya, slamat datang didunia autis :p
Boleh nangis dikit kan? Mumpung kamu ga liat hihi  



2 komentar:

  1. aku suka kalimat yang ini :
    "Sedewasa apa pun kami dimata kalian, kami tetap sesosok perempuan kecil yang butuh dimengerti. Diperhatikan. Diberi kasih sayang dengan tulus. Kami ga butuh uang kalian, kami ga butuh hadiah-hadiah dari kalian. Dengan mengucap janji bahwa kalian akan selalu ada buat kami dalam kondisi apa pun kami bisa sangat bersyukur. Kami dengan segala kesadaran bahwa janji tidak semua ditepati, tapi setidaknya kalian telah berusaha membuat kami bahagia. 1 hal, sejahat-jahatnya kami sebagai perempuan setidaknya kami selalu memandang segala hal dengan hati kami. Itulah sebabnya kami lebih mudah tersinggung, lebih mudah menangis, lebih mudah merasakan hal-hal kecil yang kami anggap sepele menjadi sangat penting.


    Kalian pasti tidak pernah berfikit bagaimana bahagianya kami ketika kami dicari, dibutuhkan, dirindukan, dianggap ada. Ini akan terlihat 'lebay' ketika kami akan tersenyum sepanjang hari saat membuka mata melihat HP dan melihat berpuluh-puluh SMS dari provider dan terdapat 1 sms saja dari laki-laki yang kami sayang mengucapkan 'Pagi sayang... Have a good day yah..' It feels like WAW! dan tanpa sadar kami akan berterima kasih kepada Tuhan karena kami telah menemukan seseorang yang bisa memberi kami semangat. Rasanya seperti saat membuka mata laki-lakai itu ada didepan mata. Dan dia satu-satunya orang yang kami lihat, pertama kali"

    BalasHapus